Indonesian Traditional Fabrics (Part II)


Terkadang memang susah untuk menggambarkan betapa Indonesia memiliki banyak sekali kain-kain cantik hasil karya anak bangsa. Pertama-tama, kain tradisional itu ada banyak sekali, berdasarkan area dan propinsi. Lalu, selalu ada cerita di balik setiap motif kain tradisional Indonesia. Kita bakal butuh berjam-jam untuk menikmati itu, tapi untuk sekarang kita bisa belajar pelan-pelan dengan cara cari tahu kain apa sih yang lagi naik daun di mata desainer dan masyarakat Indonesia, begitu pula turis-turis yang datang ke sini.

Ind Traditional Fabrics (part 2)

LURIK
Lurik adalah kain tradisional khas Solo dan Yogyakarta. Beberapa tahun lalu, kain Lurik dikabarkan hampir punah, karena pengrajin lurik sudah mulai berkurang. Untungnya, sekarang kain ini sudah mulai naik kelas lagi. Lurik yang tadinya dikenal sebagai jenis kain murah karena hanya terbuat dari bahan katun biasa, sekarang banyak digunakan sebagai elemen tambahan pada kemeja, kebaya, dan dress. Beberapa desainer juga sudah membuat karya lurik dengan sentuhan modern. Motif lurik juga sangat khas dan unik, yaitu garis klasik, jadi memang gampang digunakan untuk daily wear.

SUTRA BUGIS
Kain tenun Sutra Bugis ini termasuk kain tradisional yang cukup spesial, karena terbuat dari bahan sutra dengan rangkaian benang cantik berwarna emas dan perak. Kain yang berasal dari Makasar ini biasanya digunakan untuk padanan baju Bodo khas Sulawesi Selatan. Perpaduan warna kain sutra Bugis memang cukup ramai tetapi tetap terlihat menawan dengan motif kotak-kotaknya. Pada jaman dahulu, motif ini dapat menunjukkan apakah seorang Bugis sudah menikah atau belum. Motif Balo Renni (kecil dan cerah) dipakai oleh wanita yang belum menikah. Motig Balo Lobang (kotak lebih besar dan warna merah keemasan) dipakai oleh pria yang belum menikah.

GRINGSING
Kain Gringsing berasal dari Tenganan, Bali. Gringsing berasal dari kata “Gring” yang artinya sakit, dan “Sing” yang artinya tidak. Sehingga kain Gringsing ini diumpamakan menjadi seperti penolak bala atau dapat menyembuhkan penyakit bagi yang memakainya. Menghasilkan kain Gringsing ini tidak mudah lho! Karena ini adalah satu-satunya kain tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat dan prosesnya semuanya dikerjakan oleh tangan. Waktu pembuatannya membutuhkan sekitar 2 sampai 5 tahun!

SASIRANGAN
Nah kalau yang ini adalah kain tradisional khas suku Banjar, Kalimantan Selatan. Cara pembuatannya cukup unik lho! Kain Sasirangan dibuat dengan cara diikat kemudian dicelupkan ke dalam bermacam warna sehingga mampu membentuk motif yang beragam. Hasilnya tetapi jauh berbeda denga tie dye, karena kain Sasirangan motifnya elegan. Coraknya memang menunjukkan corak khas Kalimantan.

JUMPUTAN
Cara membuat kain Jumputan adalah dengan teknik ikat dan celup, di mana kain diikat kemudian dicelupkan ke dalam beragam pilihan warna yang cantik. Teknik kain Jumputan ini sekarang mulai naik daun lagi lho, dan bukan hanya dimanfaatkan untuk bahan utama kebaya, kain ini juga mulai sering dirancang menjadi berbagai busana yang lebih modern dan fashionable.

See? Kain tradisional Indonesia itu ada banyak banget, dan selain bisa kamu jadikan koleksi yang berharga, kain-kain ini juga keren banget untuk digunakan ke acara penting. Jangan pernah anggap remeh kain tradisional Indonesia, karena jika diolah dan dipakai dengan fashionable, kain ini bisa dipakai siapa saja 🙂

Untuk artikel Indonesian Traditional Fabrics (Part I), klik di sini.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear formSubmit